[FF] Blood Tears 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Author : hyukieegirl

Cast :

1. Eunhyuk – Lee Hyukjae

2. Other member Suju

3. Mingi (you)

4. Nara

Genre : Yadong, Romance, NC 17, Kekeresan, Threesome, CHAPTER

====

Annyeong ^^ Ini Blood Tears ke 3. Hhahah ! Saya menyelesaikan ini akhirnya. Sebelumnya warning ! Ini FF NC dan yeah ini ff juga udah di post sebelumnya di KOREANNC. Happy reading  ^^

====

“PULANG SEKARANG!” Seru Leeteuk dari seberang telephone di sana.

“..” Eunhyuk tak merespon. Ia menatap Yueun dan melakukan gerakan isyarat tangan seolah mengatakan bahwa mereka harus selesai disini. Tentu saja, Yueun dibuat kesal setengah mati dan akhirnya mau tidak mau mengenakan kembali pakaiannya.

“KAU TIDAK DENGAR HYUKJAE?!” Suara leeteuk masih terdengar menggelagar.

Eunhyuk menghela napas panjang. “Ne.. Aku pulang besok..”

“Bes—-“ Belum sempat Leeteuk berteriak, telephone itu sudah dimatikan Hyukjae karena Hyukjae tak ingin mendengar ceramah apapun saat ini.

===

Kamu sedang berjalan di jalanan Seoul yang lumayan lengaha, tentu saja karena ini adalah jam 10 malam. Kamu hanya menatap lurus ke depan, ke arah jalanan.

Kamu menunjukkan ekspresi datarmu. Pikiranmu melayang pada satu hal, satu kejadian. Kejadian itu benar-benar membuatmu merasa dunia ini penuh hal terduga. Kejadian itu adalah kamu bertemu Hyukjae saat ini, Hyukjae yang tak bisa kamu hapus dari benakmu walau kamu ingin.

“Ahh noona!” Kamu mendongak dan mendapati Juno dan Hanji yang sedang berjalan dengan ibu mereka.

“Noona sedang apa?” Tanya Juno sambil menatapmu lekat.

“Aku ingin pulang, lalu kalian sedang apa? Ini tidak masuk akal bukan kalian berkeliaran di jam 12 seperti ini.

Juno dan Hanji menatap Eomma mereka memohon bantuan. “Kamu Mingi kah? Aku Eomma Juno dan Hanji kami baru saja diusir dari rumah yang kami sewa karena kami menunggak pembayaran.” Eomma Juno tersenyum samar.

Kamu melirik tas besar yang ditenteng wanita paruh baya dihadapanmu, suatu ide muncul di otakmu, kamu tersenyum simpul. “Ahjumma kalian bertiga bisa tinggal bersamaku.”

“Jinjayo?”

Kamu mengangguk pasti. “Tapi perjalanan kesana sangat gelap dan menyeramkan di malam hari. Gwaenchana?”

“Gwaenchana unnie, kita kan berempat.” Kata hanji terkekeh.

Kamu tersenyum kecut mendengarnya. Nyalimu ini benar-benar ciut ketika mendengar Hanji mengeluarkan kalimat yang seolah-olah mengatakan bahwa kamu ini penakut sekali, ya kamu akui itu.

“Kajja kita ke rumahku!!” Katamu senang sembari menggendong tubuh mungil Hanji.

Kalian berempat berjalan menembus malam di Seoul. Kamu teringat sesuatu, ya itu Nara. Kamu ingat sekarang kamu tak perlu merepotkan Nara untuk menemani pulang sampai harus menunggunya selesai bekerja, kamu punya Juno, Hanji dan ibu mereka yang akan menemani pulang.

=====

Kamu sedang menidurkan Hanji sambil menggendongnya. Hanji adalah gadis kecil yang memang lucu dan kamu tau gadis kecil itu sangat lelah saat ini.

Kamu menatap Juno, bocah itu sudah tertidur bersama ibunya di ranjang kamar kosong di sebelah kamarmu. Di apartmen kecil ini memang ada 2 kamar, kamarmu dan kamar orang tuamu yang sudah meninggal.

Kamu mengercitkan dahi. Suara sedikit berisik menghampiri pendengaranmu. Kamu meletakkan tubuh Hanji ke ranjang kamarmu lalu berjalan menuju pintu utama.

Kamu membuka pintu itu dan ada sosok namja tinggi tegap disana. Namja yang kau kenal, namja itu lagi-lagi Hyukjae. Kamu menghelanapas pelan, mengapa namja itu harus ada lagi dihadapanmu?

“Ada apa?” Tanyamu datar.

Hyukjae membalikkan tubuhnya menatapmu. “Ada yang harus kita selesaikan.”

“Apa lagi? Bukankah semua sudah jelas hyuk ah..”

“Sudah jelas?” Ujar Eunhyuk terkekeh. “Aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Aku tidak bisa menerima alasanmu yang tak logis itu!!” Lanjut Eunhyuk, matanya melotot seakan ingin memakanmu.

Kamu memejamkan matamu untuk 5 detik, hanya untuk mencoba bersabar. “Apa yang tidak logis dari alasanku?” Katamu pelan.

“Kau bilang kau ingin aku tersenyum, tapi bagaimana bisa aku tersenyum saat kau memutuskan hubungan ini?” Eunhyuk menatapmu lekat-lekat, ia memegangi kedua pundakmu.

Kamu membuang muka, menghindari tatapan Eunhyuk. “Jadi.. sekarang kau ingin apa? Lihatlah kebelakang, saat aku bersamamu, semenjak setahun yang lalu kau tak pernah tersenyum terhadapku atau sekedar menanyai kabarku pun tidak.”

Eunhyuk perlahan melepaskan cengkraman tangannya pada bahumu. Ia menunduk dalam lalu menatapmu datar. Eunhyuk tak berkata apapun, kamu menatapnya nanar.

10 menit kalian masih dalam posisi tatap menatap dengan jarak 60 cm. Deru napas Eunhyuk terdengar jelas. Eunhyuk memejamkan matanya sejenak lalu air mata itu mengalir di pipinya. Ia tak melakukan apapun, Eunhyuk hanya membalikkan tubuhnya tanpa menoleh ke belakang melihatmu lagi. Eunhyuk lenyap di telan malam Seoul.

Kamu terpaku, kamu masih berdiri mematung menatap jalanan di ujung sana, tempat dimana Eunhyuk menghilang. Matamu sudah tak sanggup menahan bulir-bulir air mata dan detik berikutnya air mata itu tumpah. Rasa sakit ini sungguh menyiksa, ini rasa sakit yang paling sakit yang kau pernah rasakan.

====

“Mingi ya..” Nara menepuk pundakmu.

“Ada apa?”

Nara menggaruk tengkukknya yang tak gatal, lalu ia menatapmu. “Mianhae.. Tapi semalam aku bertemu Eunhyuk dan dia..” Nara mengambil jeda sejenak, melirikmu yang menatapnya datar. “Dia bercumbu dengan seorang yeoja..”

Kamu memaksakan senyum manismu. “Aku sudah tidak ada apa-apa lagi dengannya, semua sudah berakhir Nara ya..”

“Wae?” Nara melebarkan matanya, ia tak percaya.

“As you know, He doesn’t love me again.”

“How about you? You love him right?”

Kamu terdiam beberapa detik lalu menggeleng pelan. “Molla..”

Drrtt Drrrtt

Ponsel dalam saku celana hitam pnjangmu bergetar. Nama yang ada di sana adalah nama Leeteuk.

“Yoboseo oppa..”

“Apa kau bertemu Hyukjae?”

“Ye?”

“Kau bertemu dengan Hyukjae tidak? Sejak kejadian itu ia belum pulang.” Nada bicara Leeteuk terdengar serius di seberang sana.

Kamu mengercitkan dahi. “Oppa..”

“Kau bertemunya?”

“Aku bertemunya semalam tapi aku tak tahu sekarang ia dimana.” Katamu lirih.

“Baiklah, setidaknya bocah itu baik-baik saja. Annyeong!”

Sambungan telephone terputus. Kamu menghela napas berat. Kamu memegangi dadamu, rasanya hatimu gelisah, sunggu gelisah. Entah, tapi kamu tak bisa berbohong bahwa dirimu sangat mengkhawatirkan Eunhyuk.

“Leeteuk?” Tanya Nara yang masih berdiri di hadapanmu.

Kamu mengangguk pelan. “Ne..”

“Apa katanya?”

“Hyukjae belum pulang juga..”

Nara terdiam. Ia hanya melihat dirimu yang memainkan jari telunjukmu, kamu bingung saat ini, kamu bingung harus berbuat apa.

====

Kamu terbangun dari tidurmu. Ponselmu bordering, disana tertera nama Nara menelphonemu. Kamu menggeliat sejenak lalu mengambil ponselmu yang tergeletak di sebelah bantal.

“Yoboseoo..” Gumammu samar.

“Mingi ya!!” Kamu menjauhkan ponselmu dari telinga, pekikan Nara tadi sangat keras.

“Mwo?”

“Hyukjae dipukuli orang banyak di club tempatku bekerja. Kemarilah! Jebal!!”

Kamu melebarkan matamu. Hyukjae dipukuli orang banyak, itulah yang kamu dengar. Ponselmu terlepas dari genggaman. Kamu gegalapan, tak tahu harus berbuat apa.

Kamu bangkit dari ranjang dan segera melesat keluar rumah. Kamu berlari di jalanan, jalanan yang lengah karena ini sudah jam 2 pagi. Kamu terus berlari, niatnya kamu ingin naik bus atau taksi tapi ini malam jadi itu mustahil untukmu.

Napasmu tersengal. Matamu samar-samar melihat seorang namja di keroyoki orang-orang mabuk yang bertubuh besar. Kamu memejamkan matamu sejenak, mencoba berpikir.

Kamu meraba saku celanamu tapi tak ada ponsel disana. “Sial! Ponselku tertinggal! Bagaimana sekarang?”

Kamu mencoba mencari sosok Nara di kerumunan itu. Dapat, Nara berdiri di dekat tiang penyangga club. Ia linglung dan menatap kesana kemari. Kamu berlari menghampiri Nara.

“Mingi ya!” Kata Nara dengan nada keras.

Kamu hanya meliriknya sebentar lalu menatap tubuh Hyukjae yang bersimbah darah.

“Nghh..” Kata Hyukjae meringis memegangi perutnya yang di tending orang gemuk berkepala botak.

“SSHhhh..” Hyukjae kembali meringis memegangi pundaknya.

Kamu terdiam, hatimu miris melihat apa yang kamu saksikan. Namja berambut gondrong itu menindih tubuh Hyukjae dan memukuli pipinya hingga lebam. Namja botak itu meraih kaos Hyukjae membuat beberapa tnjokan di perut dan wajahnya. Kamu hanya menutup mulutmu dengan kedua tangan.

“Ngghhhh..” Lagi-lagi Hyukjae meringis kesakitan, kali ini dadanya ditendang mengtah-mentah oleh namja yang juga sedikit luka di wajah.

“CUKUUUPPP!!” Teriakmu. Semua yang ada di sana mennatapmu tajam.

“Lihat! Ada wanita yang mau melawan rupanya.” Kata si Botak dengan nada mengejek. Kamu bergidik ngeri. Sekilas, kamu melihat mata almond Eunhyuk menatapmu.

“Hai manis, jadi kau ingin kita melepaskan pria ini?” Kata yang berambut gondrong sambil memegangi tengkukmu, tatapannya penuh nafsu.

“Andwae..” Kata Eunhyuk lirih, tangannya mencoba menggapai tangan si rambut gondrong yang menyetuh tengkukku.

“DIAM KAU!!” Pria bertubuh besar itu menendang perut Hyukjae. Hyukjae tersungkur dan kembali melenguh kesakitan.

“Jangan..” Gumammu sambil menggeleng.

“Kami akan membiarkannya tapi kau harus bermain dengan kami.” Kata si botak. Kamu melirik Nara, gadis itu hanya menggeleng.

“Cih! Aku bukan pelacur!” Katamu sinis lalu meludahi wajah si botak.

6 pria bertubuh besar dan berotot itu menatap geram.

PLAK

Si gondrong menamparmu hingga terjatuh. Tubuhmu menimpa tubuh Hyukjae, dalam pelukannya.

Hyukjae mencoba bangkit melawan pria gondrong. Ia memegang kerah kemeja pria itu. “Jangan sentuh gadisku!” Kata Eunhyuk penuh penekanan, ia menatap pria gondrong dengan tatapan membunuhnya.

“Oppa..” Katamu pelan. Apa yang dikatakan Hyukjae barusan. Gadisku? Tidak itu tidak bisa terjadi. Mengapa Hyukjae mengatakan kamu gadisnya? Hati ini kenapa? Kenapa rasanya bahagia? Kamu tertegun.

BUKK

Si gondrong meninju pipi Hyukjae. Hyukjae kembali tersungkur, ia tak sadarkan diri. Kamu meringsut mendekati tubuhnya yang tak sadarkan diri itu. Kamu memegangi pipi Eunhyuk yang lebam.

“Hyuk ah.. Ireona!” Katamu mengguncang tubuh Hyukjae.

“Ireona Lee Hyukjae.. Ireona!!” Kamu kemabali mengguncang tubuh Hyukjae, kali ini menepuk-nepuk pipinya. Tubuh Hyukjae tak merespon, namja itu tetap tak sadarkan diri. Air matamu mengalir.

“Kau ikut kami!!!” Si botak menarik tubuhmu menjauh.

“Andwae! Andwaee!!” Katamu berteriak, sayang namja-namja yang banyak itu tak ada satu pun yang menolongmu.

Kamu menatap Nara. Nara mendekat kepada si botak, Nara memukul kepala si botak dengan tasnya. Si botak geram. Ia melepaskan cengkramannya dari lenganmu.

“Kuarang ajar!!” Kata pria botak lalu menampar keras pipi Nara, gadis itu tersungkur.

Kamu menutup mulutmu dengan tangan kananmu, matamu melebar. Pria botak itu kembali mencengkram tanganmu, menyeretmu menuju mobil sedan hitam 10 meter dari tempatmu berdiri.

Nara bangkit, hendak mencegah pria-pria jahat itu tapi kamu tersenyum sekilas. “Nan gwaenchana..” Katamu nyaris berbisik.

“IKUT CEPAT!!” Pria botak kini menarikmu dengan cepat. Mendorong tubuhmu ke dalam mobil. Kamu hanya menatap nanar Hyukjae yang tak sadarkan diri disana, kamu rela ikut dengan mereka asal Hyukjae tetap hidup dan tidak dibunuh.

====

“ANDWAE! ANDWAE!!” Jeritmu keras. Tubuhmu terus kau tutupi dengan kedua tanganmu. Kaosmu sudah dilepas oleh preman botak dan kini ia ingin menelanjangimu.

“Diamlah!” Kata si botak sinis.

Pria gondrong menyeringai. Ia menarik kedua tangamu lalu mengikatnya pada kepala ranjang dari kayu itu.

Si botak naik ke atas tubuhmu, menindihmu.

“Hmmmppphh..” Desahmu tertahan saat si botak menciumi bibirmu penuh nafsu.

Si gondrong membuka kemejanya dan segera menerkam tubuhmu. Ia menarik paksa hotpantsmu juga CDmu.

“Ouhhh..” Desahmu lagi menahan sensasi lidah si gondrong yang bermain di liang kenikmatanmu.

“Ngghhh hhmmmm ahhhh..” Racaumu tak jelas.

Si botak meraba punggungmu, mencari kaitan bramu. Bibirnya sibuk memberikan kissmark di sepanjang leher jenjangmu.

TREK

Bramu terlepas. Matamu melebar menyadari payudaramu yang sudah terekspos. Kamu menarik-narik tanganmu yang terikat pada tiang kayu namun usahamu sia-sia, tanganmu tak mapu terlepas untuk menutupi bagian berharga tubuhmu.

“Ini sangat menggoda sayang..” Kata si botak lalu dengan cepat memasukkan nipplemu dan payudara besarmu ke dalam mulutnya.

“Ohhh ahhh.. nghhh.. shhh.. ahh..” Desahmu menahan sensasi permainan si botak dan pria gondrong yang mencumbuimu.

Tangan si botak tak diam, ia memijat payudaramu yang bebas dengan kasar.

“Ahh..Ohh.. sa..ahh.kitt..” Kamu memejamkan matamu. Tubuhmu menggeliat, rasa sakit dan nikmat itu membuat tubuhmu seakan disengat oleh aliran listrik.

Pria gondrong kini memainkan lidahnya di sekitar pahamu. 2 jarinya bermain di liangmu, mengocoknya dengan cepat.

“Ouhh.. Pe..ahh rihh..” Katamu menahan perih di miis V mu.

Si botak menepis tangan pria gondrong dari miss V mu. Si botak tak ingin acaranya diganggu oleh pria gondrong. Si botak masih dengan nikmatnya menyusu pada payudaramu yang montok. Ia tak segan-segan menggigot dan menjilati payudaramu yang lezat.

“Ouhh Ngghhhh..” Lenguhmu.

Pria gondrong menarik tubuh si botak agar menyingkir dari atas tubuhmu. Pria gondrong kini melumat bibirmu ganas.

“Ahhh..” Desahmu membuka mulut, pria gondrong mengambil kesempatan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutmu. Pria gondrong menautkan lidahnya dengan lidahmu. Kamu tidak membalas ciumannya.

“Arggghh” Racaumu karena pria gondrong meremas dadamu kasar.

Kamu tetap memejamkan matamu menahan sakitnya payudaramu dan miss V yang dikocok 3 jari sekaligus dari si botak. Kamu tak pernah membalas sentuhan mereka.

Pria gondrong kembali meremas-remas payudaramu dengan kasar.

“Argghh.. sakit!!!” Katamu lalu menendang si botak yang sibuk menghisap miss V kuat di bawah sana.

“SIALAN!” Umpat pria gondrong menatapmu dengan mata melotot. Sekilas ia melirik so botak yang meringis kesakitan memegangi dadanya yang kamu tending.

PLAKKK

Pria gondrong menamparmu tapat di pipi kanan. Dari sudut bibirmu mengalir darah.

“KAU BAJINGAN!” Katamu lalu menggunakan kakimu kamu menendang junior pria gondrong.

“Argggghhh!!!’ Pria gondrong memegangi juniornya yang berkedut perih akibat tendanganmu.

Kamu melihat si botak, namja itu bangkit dan mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.

“Jangan harap kau bisa hidup!!” Katanya lalu mendekat dengan pisau lipat yang tajam itu.

Kamu mengambil napas dalam lalu membuangnya perlahan. Kamu memejamkan matamu. ‘Tuhan, jika ini sudah waktunya, aku rela kau mengambilku sekarang.’, batinmu.

TBC

^^ Annyeong di part 4 yaa ^^

11 thoughts on “[FF] Blood Tears 3

  1. Eonni.. part 4 mana?? Aku mau baca.. minta passwordny ne.. jebal…
    yaampun ngenes banget kisah ku dan hyukjae T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s