[FF] Valentine Rose (part 1)

Author : hyukiegirl

Cast : Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Siwon

Genre  : Romance, Action, Friendship, Family, Chapter

Sebelumnya sudah dipost di http://www.ourfanfictionhouse.wordpress.com

This not plagiat! This my mind. 100%.

=====

Summary : Hyukjae dan Sungmin sama sama anak Presdir pembisnis besar kasino di Macau. Namun sebuah masa lalu  antara ayah Sungmin dan ayah Hyukjae membuat Hyukjae terdorong untuk membalas dendam. Hyukjae bertemu dengan Mingi adik Sungmin yang membuat pria itu mempunyai rencana untuk semua pembalasannya. Meski Hyukjae tau Mingi menyukai Siwon dan telah di jodohkan oleh Kyuhyun, semua itu bukan penghalang baginya. Hyukjae mengganti namanya menjadi Eunhyuk hanya untuk sebuah keamarahan dalam jiwanya. Namja itu berdusta, bukan mengenai dirinya saja namun juga cintanya hanya untuk memenuhi keinginannya.  Semuanya dilakukan Hyukjae dengan bantuan Donghae sahabatnya. Lalu bagaimana Mingi memilih cintanya? Akankah ia kembali apada Siwon atau justru memilih Kyuhyun atau mungkin Hyukjae?

=====

Sungmin sedang sibuk merapikan jas hitam dan kemeja putihnya. Hari ini namja itu akan bertemu dengan orang-orang penting di kasino. 2 tahun bergelut dengan dunia kasino membuat  Sungmin haus akan harta.  Ia seorang Presdir Muda Grup Min setelah ayahnya meninggal dunia 3 tahun yang lalu, ayahnya Lee Min Hwa.

Sungmin tersenyum sekilas melihat pantulan dirinya pada cermin besar di ruang pakaiannya. Meski ia haus harta, Sungmin tetaplah orang yang baik. Lee Mingi, adik satu-satunya yang dimiliki Sungmin. Mingi seorang siswi di Universitas Seoul jurusan arsitektur. Gadis itu memiliki mata yang indah dan kulit putih serta eyes smile yang cantik. 2 hal yang menjadi alasan Sungmin untuk hidup, 2 hal itu adalah Mingi adik kandungnya dan Shin Shoyun ibunya.

“Sungmin ah! Palliwa! Waktu kita hanya 15 menit saja.” Ujar Siwon yang baru saja muncul dari balik pintu ruangan.

“Ne.. Tenang saja. Kau jangan khawatir seperti itu.” Jawab Sungmin santai.

Siwon menghela napas panjang. “Arraseo. Cepatlah sedikit.”

=====

Mingi POV

“Eomma!!” Teriakku histeris melihat cicak coklat yang mendarat jatuh dari dinding ke pundakku. Aku tidak berani bergerak sedikit pun, rasa takut, geli, kesal, bercampur menjadi satu dalam benakku.

“Sungmin oppa!” Teriakku kembali. Aishh! Siapa yang bisa menolongku sekarang? Bukankah ini di taman bermain anak TK? Mana mungkin ada oppaku disini, terlebih eomma yang pastinya sedang terbaring di rumah sakit karena penyakit jantungnya. Oh Tuhan, bagaimana cara menyingkirkan cicak jelek ini?

Seseorang menyentil cicak itu dari pundakku dengan santai. Ia tersenyum mengejek menatapku.

“Siwon ah.. Syukurlah kau datang.”

“Siwon ah? Mana kata oppa diakhir kata Siwon itu?” Ucapnya dengan nada kesal.

“Umur kita hanya berbeda 3 tahun, untuk apa memanggilmu oppa.”

“Dasar bocah!”

“Ya! Choi Siwon mengapa kau bisa ada disini?”

“Aku diminta Sungmin untuk menjemputmu lalu mengatarmu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Benarkah?” Siwon hanya mengangguk tatap menatapku. “Tapi.. aku ingin bertemu Eomma.”

Siwon menatapku dan seketika itu juga aku memberikan puppy eyesku. “Jebal Siwon shi..”

Siwon menghela napasnya berat lalu tersenyum. Sungguh ia terlihat sangat tampan. Aisshh pabo! Apa yang kupikirkan. “Baiklah..” Katanya.

“Gomawoyo Siwon ah..” Aku mengecup pipi Siwon lalu bangkit dari dudukku, sekilas aku melihat matanya yang membulat seakan ingin membunuhku.

Selama di perjalanan, Siwon hanya terdiam. Meskipun hening, ini sudah hal yang biasa. Siwon dan oppaku Sungmin sudah berteman sejak kecil. Mereka berteman sejak SMP dan saat SD aku pernah jatuh hati pada Siwon. Perlu dicatat, aku hanya jatuh hati, bukan jatuh cinta. Dan hal memalukan dalam hidupku pernah terjadi dengan dirinya.

(Flashback)

“Siwon oppa!!!” Teriakku girang saat melihat Siwon datang bersama Sungmin. Sungmin hanya tersenyum manis.

“Oppa kemarilah!” Aku meraih lengan Siwonn dan membawanya ke pojok ruanga, Sungmin hanya mengikuti kami.

“Ada apa?”

“Oppa, Mingi suka sama oppa. Apa oppa mau jadi pacar Mingi?” Aku bertanya dengan nada polos dan sukses membuat Sungmin yang berada disamping kami menahan tawa.

“Mingi ya, kau masih kecil. Kau tidak boleh suka-sukaan dulu.” Siwon mengusap rambutku pelan lalu berlalu meninggalkanku melongo sendirian.

(Flashback end)

Aku hanya mengembungkan pipiku mengingat kejadian itu. Sejak saat itulah aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memanggil Siwon dengan embel-embel oppa.

“Gwaenchana?” Tanya Siwon yang melihat perubahan wajahku.

“Ne, nan gwaenchana.”

======

Aku menghela napas panjang saat melihat mobil Siwon yang menjauh. Aku menatap bangunan kokoh yang disebut Rumah Sakit ini. Aku melangkahkan kakiku memasuki gedung besar itu lalu berjalan di lorong-lorong sempit berdinding putih.

“Eomma..” Ucapku pelan sembari membuka pintu bertuliskan 244.

“Mingi ah.. kemarilah.”

Aku berjalan menuju ranjang eomma dan memeluk tubuhnya. Berada dalam pelukan eomma adalah hal yang paling nyaman dalam hidupku. “Eomma.. aku sungguh merindukanmu.”

“Jinjayo?”

“Hmm..” Gumamku mengangguk.

“Eomma apa oppa sudah mengunjungimu minggu ini?”

“Aniyo.. Sungmin belum kemari, mungkin ia sedang sibuk.”

“Aisshh si pumpkin itu!”

“Mingi ya.. Kau kemari bersama siapa?”

“Itu.. Aku kemari diantar Siwon.”

“Kau masih menyukainya?” Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak. Pertanyaan gila apa yang ditanyakan eomma? Aku harus menjawab apa? Sungguh aku tidak tahu pasti perasaanku.

“Kau masih menyukainya?” Tanya eomma lagi.

Aku hanya menggeleng. “Molla eomma..”

“Sudahlah jodohmu tidak akan kemana, percayalah semua sudah diatur Tuhan.” Perkataan eomma membuatku berpikir apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya. Siapa jodohku itu? Siapa yang akan kunikahi. Aku harap dia adalah pria yang baik.

=====

Hari ini adalah hari yang indah. Langit yang biru dan matahari yang  cerah menenangkan jiwaku. Aku meneguk capuchino favoriteku lalu tersenyum. Bukankah ini adalah hal yang menyenangkan? Ujian skripsi ku sudah berakhir semua masalah kuliahku sudah berakhir yang tertinggal hanyalah wisuda.

Aku mengamati sekeliling taman kota dan mendapati seorang pria dengan rambut merah tanpa menutupi keningnya sedang membagika mawar merah cantik kepada para ibu dan gadis yang ada di taman kota ini dan memberikan sebatang coklat kepada setiap anak kecil yang ada. Aku mengercitkan dahi mencoba berpikir berapa banyak uang yang habis hanya untuk mawar merah dan chocolate itu.

Aku terus menatap pria itu, yang ada di tangannya hanyalah sisa sebuah mawar, bukan merah namun putih. Sedetik kemudian pria itu menatapku. Aku tertegun, apa aku tertangkap basah? Sudahlah aku tidak perlu terlalu memikirkannya bukan? Aku kemudian menatap pria itu dan tersenyum menunjukkan eyes smile ku. Pria itu berjalan mendekat dan reflex saja aku berdiri dari dudukku.

“Annyeonghaseo!” Sapanya sambil menunduk 90 derajat.

“Annyeonghaseo!”

“Ini mawar untukmu.”

“Ne?” Tanyaku bingung. Aku sama sekali belum mengetahui namanya namun ia sudah memberikan mawar putih yang hanya tersisa satu ini untukku.

“Apa tidak apa-apa? Ini kan mawar putih terakhir, kau bisa memberikannya untuk orang lain.”

“Aniyo.. Ini untukmu saja. Mianhae aku tidak bisa memberikanmu mawar merah.”

“Gwaenchana..” Ucapku tersenyum. “Lalu mengapa kau membagikan mawar dan coklat? Valentine itu kan besok.”

“Panjang ceritanya. Besok aku akan kemari lagi kuharap aku bisa bertemu denganmu dan memberikan mawar yang berwarna merah, bukan putih.” Aku hanya tersenyum menatapnya. Pria ini sungguh baik. Namun sepertinya aku sudah mengenal pria ini cukup lama. Ah tidak, mungkin ini hanya perasaanku saja.

“Aku pergi dulu. Sampai jumpa!!” Ujarnya lalu berjalan cepat menuju sebuah sepeda dengan keranjang di bagian depan. ‘Apa pria itu adalah seorang seles yang mempromosikan merk coklat atau toko bunga? Tapi ia menggunakan kemeja dan celana panjang hitam. Ah itu bisa saja bukan?’ Batinku.

“Mingi ah!!” Aku menoleh dan mendapati Siwon yang berlari kecil kearahku.

“Siwon shi, mengapa bisa ada disini?”

Ia mengatur napasnya sebentar lalu tersenyum manis. “Aku ini disini untuk menjemput seorang gadis yang selalu bertanya padaku ‘Mengapa bisa ada disini?’ saat aku ada dihadapannya.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. “Baiklah Siwon ah, tapi aku tidak ingin pulang hari ini.”

“Mwo?”

“Aku rindu pada eomma, antarkan aku ke Rumah Sakit. Jebal!!” Siwon hanya mengangguk dan merangkulku.

=====

Seperti biasa aku memeluk eomma dan bergelayut manja padanya. Eomma sibuk mengelus rambutku. Ini begitu terasa nyaman. Untunglah Siwon itu sangat baik sehingga ia menurutiku dan mengantarku kemari. Hanya saja, ia harus segera pergi menuju kasino di Macau untuk bisnis Grup Min milik keluargaku.

“Mingi ya.. Kau sudah makan?”

“Ne eomma.. Apa eomma lapar?”

“Aniyo.” Jawab eomma dengan senyuman indahnya. “Kau terlihat lebih kurus sekarang.”

“Ah itu, aku sedang sibuk dengan ujian dan ini itu belakangan ini. Mungkin karena itu.” Jelasku pelan, berusaha membuat eomma tidak khawatir.

CKLEK

Pintu itu terbuka dan sosok tampan yang tinggi dengan senyum yang terlihat evil muncul di sana. Disebelah sosok itu ada Sungmin yang juga tersenyum, senyum khas miliknya.

“Annyeonghaseo ahjumma.” Sapa lelaki itu, ia membungkuk 90 derajat.

“Annyeong!” Jawab eomma dan tak lepas dengan senyumannya.

“Kebetulan kau juga ada disini Mingi ya..” Kata Sungmin oppa girang. Ia meraih lenganku dan menyeretku ke hadapan Kyuhyun. “Kyuhyun ini Mingi..”

Kyuhyun mengulurkan tangannya. “Kyuhyun imnida..”

Aku menatap Sungmin yang menggidikkan dagunya ke arah uluran tangan Kyuhyun. Sedetik kemudian, aku membalas uluran tangan namja bersenyum evil itu. “Mingi imnida..”

“Senang bertemu denganmu..” UJarnya lalu melepas genggaman tangannya.

“Nado..” Jawabku canggung. Apa-apaan ini Tuhan? Siapa namja ini?

“Mingi  ah.. Kyuhyun ini calon suamimu, sesuai wasiat appa. Kyuhyun adalah anak Presdir Cho Taeyong. Mulai sekarang kalian resmi menjadi sepasang calon suami istri dan besok malam adalah hari pertunanganmu dengan Kyuhyun. Baik-baiklah.” Sungmin menjelaskan panjang lebar yang sukses membuat mata dan mulutku membentuk huruf O. Tuha, apa yang terjadi? Apa ini mimpi? Tolong bangunkan aku dari mimpi ini. Bagaimana bisa aku akan menikah dengan orang asing ini Tuhan? Bagaimana bisa?

======

“Kau terlihat begitu cantik!” Ujar Siwon yang mencubit pipiku gemas.

“Siwon ya..”

“Hei! Kau tak boleh menyukaiku lagi. Arraseo?”

“Menyukaimu? Aku sama sekali tidak menyukaimu tuan Choi Siwon.”

“Aissh! Aku masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, aku masih ingat jelas Mingi ah..”

Aku menatapnya tak percaya. Ku kira namja ini sudah melupakan kejadian itu. “Siwon ah.. jangan bicarakan itu.”

Siwon hanya mengangguk, ia kemudian memeluk tubuhku erat. Aku hanya terdiam. “Mingi ya.. Dengarlah! Setelah ini kau harus bahagia dan belajar mencintai calon suamimu. Aku tau kau menyukaiku tapi ketahuilah, aku hanya menganggapmu adikku. Mianhae, tapi ini memang kenyataannya. Aku hanya menganggapmu adikku, tak lebih. Aku hanya menyayangi dan menyukaimu sebagai adikku.” Semua terdengar sebagai tusukan pisau yang bertubi-tubi menusuk jantungku. Dada ini terasa sesak Tuhan. Apa aku mencintainnya? Tidak, ini bukan cinta tapi ini sebuah kejujuran tentang perjalananku bersamanya selama ini. Ini terlalu sulit untukku pungkiri. Ini terlalu sulit untuk kuterima.

“Kalian disini rupanya.” Siwon melepaskan pelukannya pelan ketika Sungmin menyerukan suaranya.

“Oppa..” Aku memeluk tubuh Sungmin. “Apakah benar aku akan bertunangan sekarang?”

“Ne.. Ini kenyataan chagiya..” Sungmin oppa mengelus rambutku sayang.

“Mingi ya.. Ingat kau sudah dewasa, pertunangan bukanlah ha lasing untuk gadis berumur 21 tahun sepertimu.” Aku menatap Siwon dengan tatapan membunuh. Meskipun bukan ha lasing, tetap saja ini yang pertama kali untukku.

Sungmin dan Siwon tertawa melihat tingkahku. Siwon tak hentinya mengacak rambutku gemas. “Yak! Ini bisa rusak Siwon ah!!

=====

Aku menatap seluruh tamu undangan yang ada di sini. Di tempat yang luas seprti ini penuh dengan orang-orang pembisinis sepertinya. Lihat saja mereka semua mengenakan jas dan kemeja yang pastinya sangat mahal. Sungguh, ini bukan pertunangan yang kuinginkan. Bukan di area luas dan klasik, aku lebih suka dengan tema kebun bunga atau apa saja yang berbau alam. Baiklah ini mungkin terdengar kekanakan, tapi memang kenyataannya aku lebih suka hal seperti itu.

“Baiklah acara pertunangan Lee Mingi dan Cho Kyuhyun akan dimulai. Para tamu undangan diharap tenang.” Sedetik setelah kalimat itu semua menjadi gelap, ya mati lampu.

DUAR DUAR DUAR PRANKKK!!

Aku berjongkok menutupi telingaku. Suara tembakan peluru yang menyentuh kaca ruangan ini menggema keras. Semua tamu undangan berteriak histeris. Aku hanya terdiam berjongkok di bawah meja makan. Sekilas kudengar Sungmin oppa dan Siwon berteriak memanggil namaku. Dan Kyuhyun, namja itu juga berteriak memanggil namaku. Kemudian tembakan berikutnya terdengar 5 kali berturut-turut. Setelah itu suara derap langkah kaki berjalan cepat mengelilingi sekitaranku. Kurasa, itu adalah anak buah Sungmin oppa.

“Hei!” Aku terkejut mendengar seorang pria yang juga berjongkok disebelahku.

“Nugu?” Tanyaku ragu.

“Kau tidak ingat suaraku, aku yang kemarin memberikan mawar putih untukmu.”

Aku menyipitkan mataku ketika cahaya ponsel namja itu menerangi kami. “Kau tuan rose?”

“Ne. Sekarang keadaannya sangat buruk. Bagaimana jika kita kabur saja?”

“Kau sudah gila? Kita bisa mati tertembak jika dalam keadaan gelap seperti ini.”

Namja ini menghela napas panjang. “Tenang saja, selama ada aku kau akan baik-baik saja.”

“Benarkah?” Tuan Rose hanya mengangguk.

Tuan Rose melepaskan jasnya dan memakaikannya ke tubuhku. “Ini jas anti peluru, kau akan baik-baik saja selama mengenakannya.” Aku hanya mengangguk mendengar ucapannya.

Tuan Rose menggenggam tanganku kuat. Entahlah aku merasa sangat nyaman di dekatnya. Pria ini mendekap tubuhku ketika terdengar suara tembakan. Pria ini sesekali beradu otot dalam gelap dengan orang-orang yang menghalangi kami.

“Aisssh!!” Aku mendengar suaranya yang meringis kesakitan.

“Tuan rose? Kau tidak apa-apa?” Aku berusaha mencari sosoknya dan berhasil. Ia memegangi lengannya yang sudah berlumur darah.

“Omona! Gwaenchana?” Tanyaku panik. Namja ini hanya mengangguk lemah. Aku menolrh kesan kemari mencari sesuatu yang mungkin bisa kugunakan untuk membalut lukanya. Aku menatap dress putihku. Dengan susah payah aku merobeknya hingga kengekspos paha putihku. Ah ini keadaan darurat, jadi aku membiarkannya. Aku membalut tangan tuan rose dengan dress putih itu.

“Apa sudah lebih baik?” Tak ada jawaban dan lampu pun menyala. Aku menatap sekeliling, tuan rose tidak ada. Aku menolrh menatap isi ruangan ini. Tak ada satu pun yang beres. Dari podium hingga jendela semuanya hancur. Vas bunga dan makanan berserakan. Aku menatap tubuhku, jas tuan rose masih melekat ditubuhku. Aku terdiam, wangi ini seperti suatu wangi yang sangat kurindukan, tapi apa?

======

Author POV

“Sial! Siapa pelaku semua ini?!” Sungmin menggebrak meja yang ada dihadapannya. Siwon, Kyuhyun dan beberapa anak buahnya menatapnya dengan penuh kata setuju.

“Menurutmu siapa yang melakukan ini semua Kyuhyun shi?”

“Kurasa, dia adalah orang yang mengetahui keuntungan dari pertunangan ini. Dengan kata lain dia adalah musuh besar kasino kita yang ingin menghancurkan kerjasama Grup Cho dan Grup Min, karena kurasa ia akan mengetahui dampak pertunangan ini begitu berpengaruh bagi bisnis kasino keluarga kita.”

“Aku setuju dengan Kyuhyun. Apa mungkin pelakunya orang-orang Lee Kyung Dae?” Ujar Siwon menerka.

“Bisa jadi dia memang orang-orang Kyung Dae. Meski sudah meninggal, Kyung Dae masih mempunyai seorang anak laki-laki dan anak itu bernama Lee Hyukjae. Kurasa Grup Dae itu ingin merebut tahta raja kasino miliknya kembali.” Kyuhyun menambahkan pendapatnya.

Sungmin tertegun, ia mengingat sebuah kejadian naas yang terjadi 6 tahun yang lalu. Pertarungan Grup Dae dan Grup Min merebut roda kasino dengan proyek besar bernilai milyaran won 2006 silam.

“Aku rasa kita harus mengetahui gerak-gerik orang-orang Grup Dae untuk memastikan semua ini, terlebih Lee Hyukjae.” Kyuhyun berkata penuh dengan keseriusan, terdengar jelas dari nada suaranya.

Siwon menatap Kyuhyun sejenak. Dan menaikkan sebelah alisnya. “Tapi, terakhir kudengar Hyukjae pergi ke Thailand untuk bisnis narkoba, ia melepaskan kasino.”

“Siapa yang sangka, mungkin saja nyali seorang Hyukjae untuk kembali di dunia kasino itu sudah kembali membara Siwon shi.” Ucap Sungmin pelan tapi pasti.

=====

Mingi POV

Aku terdiam di depan sebuah meja hias lengkap dengan cerminnya.Aku menatap jas yang ditinggalkan Tuan Rose penuh teliti. ‘Bukankah ini hanya jas biasa?’ batinku. Aku terus menatap jas tersebut dan kemudian mencoba menjelajahi setiap bagian jas ini.

“Ige mwoya?” Tanyaku pada diri sendiri, kaget. Aku menemukan sebatang mawar merah yang terlihat seperti mawar merah dominan namun masih bercampur putih. Aku tertegun, otakku berusaha berpikir keras dan kemudian aku membongkar setiap saku jas itu. Sebuah surat manis tersimpan di bagian saku dalam jas. Surat itu berkertas putih dengan tinta merahnya.

Hai nona yang beruntung.

Spertinya kau adalah jodohku.

Taukah engkau, beberapa hari yang lalu seorang nenek berkata padaku bahwa siapa yang menerima mawar putih yang kuwarnai merah dengan darahku itu di hari valentine ini adalah jodohku.

Apa ini semua akan menjadi kenyataan?

Sungguh, aku ingin bertemu denganmu nona ^^

Aku menunggumu di taman kota di bwah pohon mapple merah yang terbesar disana, kuharap kau datang bersama surat dan mawar ini.

Aku yakin seyakin-yakinnya kau adalah gadis cantik dan baik hati. Jebal! Datanglah!

-o-

“Tuhan apa ini mimpi?” Aku menepuk pipiku dan mencubitnya asal. Rasa sakit itu benar adanya. Kurasa ini bukan mimpi. Namun bukankah isi surat itu sungguh tidak masuk akal?

=====

Aku berjalan di pasir pantai yang begitu indah. Laut yang biru sangat serasi dengan langit dan awan yang cerah. Aku hanya menatap lurus ke depan, rasanya aku tak berniat sedkit pun menatap Kyuhyun yang tengah berjalan di sampingku. Entahlah, aku merasa namja ini terlalu angkuh.

“Mingi ya.. katakanlah sesuatu.”

Aku menatap Kyuhyun yang sedang terlihat kesal. “Kau mau aku mengatakan apa Kyuhyun shi?”

“Katakan apa saja yang kau inginkan.”

“Benarkah?” Kyuhyun mengangguk dan tersenyum dengan senyuman yang sangat kubenci.

“Kyuhyun shi, bisakah kau tidak ada di sekitarku lagi? Bisakah kau untuk tidak bertemuku lagi? Aku sungguh benci melihat wajahmu. Molla, tapi aku benar-benar tidak nyaman berada di dekatmu.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, keningnya mengerut. “Mwo?”

“Apa aku perlu mengulangnya?”

PLAKK

Kyuhyun menampar wajahku keras. Ia menatapku dengan penuh tatapan membunuh dan marah. Wajahnya bennar-benar terlihat geram, mengerikan. Aku hanya menatapnya, menatap tepat di manik matanya. Tak ada satu tetes air matapun yang mengalir, bahkan rasa sakit dibenakku tak ada. Aku memang pantas mendapatkan tamparan ini. Siapa yang tak akan marah jika menerima kata-kataku tadi bukan? Sungguh, aku lebih suka kejujuran dari pada kebohongan.

“Kau pikir kau begitu berharga? Kau begitu anggun dan cantik? Kau bahkan bukan seleraku!” Bentak Kyuhyun.

“Kyuhyun shi, aku sangat menyukaimu karena kau orang yang jujur. Gomawoyo..”

“Cih! Apa kau tidak sadar? Kau harusnya beruntung karena menjadi calon istriku!”

“Sungguh aku sangat beruntung, hanya saja perasaanku tidak bisa dipaksakan. Aku sama sekali tak mencintaimu atau bahkan menyukaimu. Aku tidak nyaman saat di dekatmu.”

Kyuhyun memalingkan mukanya menatap lautan. “Kurasa, kau memilih pilihan yang salah.” Hanya kalimat itu yang diucapkannya sebelum pergi. Kyuhyun berjalan memunggungiku, menjauh.

Aku menghela napas panjang. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku. Aku benar-benar sangat membenci senyuman Kyuhyun, meras atidak nyama berada di sisinya. Aku tidak bisa bersamanya. Aku tidak bisa memaksakan diriku. Berpura-pura itu sungguh menyakitkan. Aku lebih baik jujur daripada harus berdusta, karena aku sangat membenci sebuah dusta.

Aku mengacak rambutku frustasi. Kyuhyun sudah pergi tanpa rasa kasihan aku akan pulang bagaimana. Sungguh, ia pasti sangat marah. Semua tentang Kyuhyun, Sungmin dan perjodohan ini terus berputar di otakku. Ini sungguh tidak adil bukan? Apa aku sebuah barang yang mudah diperintahkan ini dan itu? Tidak, aku seorang manusia yang punya pikiran dan perasaan.

“Nona..” Sapa seorang nenek tua dengan rok serta sweater abu-abunya.

“Ah ye, ada apa?”

“Kau terlihat begitu lelah dan kebingungan.”

“Itu..” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Itu karena aku bingung nek harus pulang bersama siapa. Aku bingung bagaimana caranya aku bisa ke Seoul.”

Nenek itu tersenyum. “Kau hanya tinggal berjalan 1 km dari pantai ini ke arah barat. Disana ada halte bus, kau bisa menaiki bus untuk ke Seoul.”

“Jinjayo? Kamsahamnida nek..” Aku membungkuk 90 derajat kepada sang nenek.

Nenek tetap tersenyum. Ia menggenggan tanganku erat. “Kau sungguh cantik dan ramah. Hari ini kau akan bertemu jodohmu. Jodohmu yang juga sangat baik. Meski jodohmu itu sempat menyakitimu kelak, sungguh dia adalah jondoh terbaik untukmu.”

Aku tertegun sejenak, sedetik kemudian aku memaksakan seulas senyum. Apa nenek ini berkata sebuah kejujuran? Aku teringat pada Tuan Rose dan suratnya. Aku membuka sedikit mulutku untuk sekian detik. Ya aku ingat, Tuan Rose menungguku saat ini.

=====

“Tuan Rose?” Aku menatap sekeliling pohon mapple merah besar berusaha mencari sosok Tuan Rose. Ini sudah pukul 11 malam, aku sungguh pesimis apa ia masih ada disini.

“Nona..” Aku menatap pria yang muncul dari balik pohon, dan benar dia adalah Tuan Rose.

“Kau sungguh masih ada disini?”

“Ne..” Tuan Rose menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku bergidik ngeri. “Jadi apa kau yang menemukan mawar putih darahku itu?”

“Ne..”

“Aku tak menyangka bahwa ternyata gadis itu adalah kau. Eunhyuk iminida.” Ujar Eunhyuk mengulurkan tangannya.

Aku membalas uluran tangannya dan tersenyum. “Mingi imnida. Lee Mingi.”

“Nama yang bagus.”

“Jinjayo?” Eunhyuk mengangguk. “Eunhyuk shi, mengapa kau bisa ada di acara pertunanganku dan mengapa kua hilang begitu saja?”

“Itu takdir Mingi shi. Tuhan sudah mengaturnya.” Aku tertegun. Apa ini kenyataan? Apa ini memang sebuah takdir? Aku menatap mata Eunhyuk berusaha mencari sebuah kedustaan, sayangnya tak ada. Ya, Eunhyuk berkata penuh keyakinan.

“Soal isi surat itu..”

“Jangan bertanya, biarkan semua terjawab dengan sendirinya. Kita berteman?” Potongnya sembari mengacungkan kelingkingnya.

“Berteman.” Balasku tertawa kecil.

=====

“Hei! Jangan melamun!” Sungmin mencubiti pipiku gemas.

“Appo oppa..”

“Kau sedang memikirkan apa huh?”

“Kyuhyun dan perjodohan. Oppa, apa benar aku harus menikah dengannya? Aku tidak mau.”

“Waeyo?” Tanya Sungmin kaget.

“Aku bukan gadis yang baik untuknya. Aku sudah menyakiti perasaannya. Tolonglah oppa batalkan semua ini.”

“Ini wasiat appa Mingi ah..” Sungmin menyentuh kedua pipik dengan tangannya yang lembut.

“Aku yakin appa tak akan marah karena aku melanngar semua ini. Aku yakin ia mengerti, aku sungguh tak bisa oppa..”

“Belajarlah mencintainya, kau akan terbiasa nantinya.” Sungmin melepaskan tangannya lalu berlalu menuju keluar rumah. Apa aku harus melakukan ini? Aku menghela napas panjang. Aku tak ingin dijodohkan!

“Mingi ah, apa kau ingin meminum coffee bersama?” Siwon muncul dengan kemeja putih dan celana panjang hitamnya. Baiklah, Siwon selalu terlihat tampan.

“Kurasa itu akan membuatku lebih baik.” Jawabku tersenyum.

=====

Alunan music classic yang menyeliputi atmosphere café ini membuat jiwa begitu tenang. Aroma cappuchino yang kuaduk begitu harum. Aku menyuruput cappuchinoku, lezat. Siwon memperhatikanku dalam diam.

“Wae?”

“Aniyo..” Jawabnya santai. “Bagaimana kau dan Kyuhyun?”

“Itu..” Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Molla, aku bingung Siwon shi.”

“Mengapa?”

“Aku tidak nyaman bersamanya, aku sungguh membenci senyumannya dan aku sangat tidak suka dengan tatapannya.”

“Mau tidak mau kau harus menerimanya. Ingat? Ini wasiat ayahmu.”

“Tapi.. apa aku harus?” SIwon mengangguk pelan.

Aku menghela napas panjang. “Bagaimana dengan dirimu? Sudah bertemu gadis impianmu?”

Siwon menatapku sedikit kaget, aku bisa melihatnya. “Tentang itu, doakan saja aku untuk segera bertemu dengannya.”

Aku tertegun. Rasanya ada yang aneh. Ada yang aneh dengan dadaku. Mengapa dada ini tidak sesak Tuhan? Seharusnya aku merasa sakit, seharusnya disini, di dada ini sesak. Seharusnya aku sangat membenci ucapan Siwon itu. Apa yang terjadi? Apa mungkin aku sudah tidak menyukainya? Tidak?

“Mingi ah..” Siwon menepuk pundakku pelan.

“Ye?”

“Kau kenapa?” Aku menggeleng cepat, aku yakin aku salah tingkah sekarang.

Aku menatap Siwon dan tersenyum. Tersenyum manis dengan eyes smileku. AKu berusaha membuatnya berpikir aku baik-baik saja. Sedetik kemudian aku menatap sebuah mobil yang berhenti tepat di samping kaca jendela bening yang ada di sisi kananku. Seorang pria turun dari mobil itu. Ia bersama beberapa orang pengawal dan anak buahnya. Wajahnya itu tak asing bahkan wajahnya itu adalah wajah yang saat ini kubenci.

“Kyuhyun..” Gumamku pelan, nyaris berbisik.

-TBC-

One thought on “[FF] Valentine Rose (part 1)

  1. annyeonghaseo , nan miati imnida🙂 reader bru di sni . Bangapta ^^
    ksian mingi hrus di pksa m’nkah dgn kyu oppa😦 n hyuk oppa m’dkti mingi krna ingin blas dendam kn😦
    Kreen n daebak thor😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s